Clair De Lune adalah karya klasik (yang tidak akan saya sebut sebagai musik) dari Suite Bergamasque pada Third-movement-nya.Clair de Lune digubah oleh Claude Debussy, seorang pianis dengan aliran impresionis di awal abad ke-20. Karya ini memiliki artian “Sinar Rembulan” dalam bahasa perancis, dan terinspirasi dari puisi dengan judul yang sama karangan Paul Verlaine. Sebenarnya, banyak komposer lain pada masanya terinspirasi oleh puisi Paul Verlaine, akan tetapi kali ini saya akan membahas mengenai “milik” Debussy yang menurut saya telah menciptakan sebuah karya klasik yang mengagumkan serta memberikan pesan yang sarat akan interpretasi bagi siapapun yang mendengarkannya. Karya ini memberikan “nyawa” terutama kepada tematik nokturno yang dikenal akan kelembutannya yang melankolis. Hasilnya, “Clair de Lune” telah menjadi salah satu karya impresionis yang paling megah pada masanya, yang sering diasosiasikan dengan cinta dan romantisme pada karya sastra modern seperti pementasan drama, opera, maupun film yang diputar di bioskop. Kali ini saya akan memberikan persepsi saya mengenai Clair De Lune berdasarkan perspektif saya, seorang mahasiswa Psikologi. Tentang bagaimana penginderaan saya memberi makna terhadap karya spesial ini (bagi saya).
Mendengarkan "Clair de Lune" sering kali membawa saya ke dalam ruang batin yang damai, jauh dari hiruk pikuk dunia. Dengan arpeggio yang lembut dan bergerak pada tempo yang bervariasi, seolah menggambarkan awan yang berarak dan menyebar, menciptakan bayangan yang hidup di langit malam juga teknik pedal yang memiliki kesan “menyelimuti” not-not yang dimainkan. Melodi-melodi yang saling bertautan dengan lembut menciptakan nuansa yang buram, terasa abu-abu, seperti sebuah enigma yang menggambarkan cahaya bulan yang terkadang tertutup awan. Karya ini menyeret saya tenggelam ke dalam pengalaman emosional saya, seolah-olah tengah berayun pelan di atas kursi teras paling nyaman pada suhu yang sempurna. Setiap not yang mengalun menciptakan suasana yang lembut dan tenang, membelai jiwa dengan ketenangan yang jarang bisa ditemukan dalam kehidupan yang repetitif. Di sinilah karya ini memulai perjalanannya, membimbing saya ke dalam kedalaman emosi yang tidak perlu diungkapkan, namun cukup dirasakan, membawa saya mengapung dalam pikiran dan impian, tanpa perlu bergerak sama sekali, sehingga saya hanya perlu tenggelam dalam kenyamanan karya ini.
Seiring berjalannya komposisi, Debussy menyusun harmoni yang semakin kompleks namun tetap lembut (dibaca: impresionis), menciptakan lagi lapisan-lapisan kenyamanan yang membuai telinga. Setiap bagian memberikan kehangatan baru, layaknya bantal-bantal lembut dengan hangat yang makin menumpuk, dan selimut yang terbuat dari bulu angsa di atasnya. Suasana ini terus berlanjut hingga menuju ujung komposisi, ketika tempo melambat dan setiap not terasa semakin dalam, seperti detik-detik senja yang perlahan tenggelam dalam malam. Dalam detik-detik terakhir, saya merasa seolah semua beban perlahan larut. Sinar matahari di kejauhan yang mulai terasa membelai kulit, seakan mengisyaratkan bahwa dunia ini adalah tempat yang penuh dengan kenyamanan, namun juga kesedihan. Pada titik ini, "Clair de Lune" membuat saya sadar bahwa makna sebenarnya yang saya tangkap dari karya ini adalah tentang “Keikhlasan” serta “Ketabahan” dari cinta itu sendiri. Bagaimana melepaskan adalah bentuk sejati dari cinta, sebuah agape, dan bukan cinta ideal yang dimiliki oleh mayoritas orang, bukan cinta eros yang penuh gairah atau cinta philia yang berbasis persahabatan.
Pengalaman mendengarkan karya ini bisa berbeda-beda bagi tiap orang, tetapi bagi saya, “Clair de Lune” adalah renungan semesta yang sarat akan perasaan emosional. Entah itu kebahagiaan, kesedihan bahkan kehangatan, semua orang pasti akan merasakan hal yang berbeda dari mendengarkan karya ini. Hal tersebut pula yang membuat saya untuk menekankan pada awal artikel ini dengan teramat jelas dengan: “... Sebagai mahasiswa Psikologi…”. Namun, meskipun begitu saya akan menganggap karya ini sebagai perenungan atas segala tindakan saya di masa lalu, yang tidak bisa saya ulangi lagi di masa ini. Karya ini menjadi cermin yang amat teramat besar dengan kekuatan magis yang dapat memunculkan bayangan masa muda yang telah berlalu beserta cinta yang saling melengkapi, sekaligus bentuk renungan bagi mereka (cinta dan masa muda) yang telah lama menghilang. Saya menjadi tersadar bahwa, Semakin lama saya berumur, semakin besar pula perasaan kerinduan untuk mengulang saat-saat bahagia yang tak bisa kembali semakin menguat. Apakah saya dapat mengulanginya? Apakah saya dapat mereplika kenangan yang pernah terjadi? Atau, bisakah saya memutar kembali waktu?
Kepala saya dipenuhi oleh banyak variabel yang saling bertebangan di dalam Tritunggal otak saya (gabungan dari Neocortex, Mammalian Brain, serta Reptilian Brain). Begitpula dengan hati nurani saya dengan sangat teramat percaya mengatakan bahwa kenangan akan tetap hidup dalam ingatan saya (selagi saya mengingatnya) serta memberi saya kekuatan untuk melangkah untuk menjadi lebih baik. Kenangan tersebut tanpa saya sadari telah menjadi bagian dari tubuh saya yang tak bisa saya ubah sedemikian rupa. Yang membentuk saya sehingga dapat saya katakan bahwa, “Saya adalah refleksi dari jutaan orang yang telah saya temui…” Seperti kepingan puzzle yang membentuk saya seutuh-utuhnya. Sebuah brankas yang menyimpan jejak emosi yang tak terhitung, mozaik dari semua yang pernah singgah di dalam hidup saya, dan seperti hulu air yang pergi menuju hilir. Saya membawa semua fragmen kehidupan mereka, jiwa yang jiwa saya temui dengan pancaran warna yang berbeda, melukis sebuah tabula rasa yang semestinya masih suci lahir dan batin. Di sinilah “Clair de Lune” menemukan kekuatannya untuk menyentuh hati saya, menghadirkan kesan nostalgia yang tiada dua, hingga terkadang membawa saya untuk berjumpa dengan air mata.

0 Komentar