Halo temen-temen semua! Udah hampir satu tahun ya, Anasir Siya menghilang dari peradaban. Beberapa dari kalian mungkin mengira bahwa Anasir Siya telah koit dan tak akan kembali lagi untuk selamanya. Namun,, we're back, guys. Tentunya dengan berbagai opini baru dan mungkin rubrik-rubrik baru yang akan menghiasi waktu gabut kalian. Rencana jangka pendeknya, Anasir Siya akan lebih konsisten dan lebih banyak menyuarakan isu yang hangat dan relate dengan kita, tentunya dengan berbagai pendekatan, tergantung pula siapa penulisnya. Mungkin, cukup sudah basa-basinya, sebab jika terlampau panjang, artikel ini akan terkesan cukup receh dan kehilangan konteks dari isu yang akan dibahas, yaitu Iklim, Ekonomi, dan Manusia
Masalah perubahan iklim sudah menjadi bahan perbincangan dalam komunitas sains selama berdekade-dekade. Perubahan iklim yang pada awalnya masih dianggap sebagai “mitos” atau “konspirasi” lambat laun berubah menjadi sebuah fakta yang tidak terhindarkan. Pemanasan global yang dulu (bahkan hingga sekarang) dianggap mitos, secara mengerikan, terbukti sebagai fakta. rekor-rekor suhu terpanas dalam setiap tahun semakin meningkat telah menjadi bukti konkret Krisis yang saat ini kita alami.
Meski telah terbukti sebagai kenyataan, sepertinya kita sebagai umat manusia semacam belum melihat urgensi dari krisis ini. Sumpah-sumpah, perjanjian, dan konferensi iklim telah kerap digelar di tingkat internasional, tetapi langkah konkret yang dijalankan tidak seindah perjanjian diatas kertas. Alam masih sekarat.
Alasan demi alasan di luncurkan untuk menjadi pembenaran “kemalasan” negara-negara global untuk menghadapi krisis ini. Mulai dari alasan ekonomi, pembangunan, saling lempar tanggung jawab dilontarkan. Masalahnya hanya satu.” Nature doesn’t give a fuck about the economy”. Hutan dan laut telah ada jutaan tahun sebelum manusia sendiri ada. Alam tidak membutuhkan manusia untuk hidup, tapi manusia membutuhkan alam untuk hidup.
Tentu, kita tidak bisa memperbaiki alam tanpa uang. Penelitian teknologi ramah lingkungan, inovasi dibidang manufaktur untuk mengurangi emisi karbon, usaha konservasi hutan, semua membutuhkan dana. Naif jika kita mengabaikan sektor ekonomi ketika berbicara konservasi alam. Namun, perbincangan tentang ekonomi dan alam seharusnya mengarah pada “bagaimana cara kita mengembangkan ekonomi tanpa semakin membunuh alam” atau “bagaimana cara kita mejadikan usaha konservasi alam lebih ekonomis” dan bukan pada saling melempar kesalahan dan menghindari tanggung jawab atas nama “perekonomian”.
Berbicara mengenai lingkungan dan ekonomi memang akan selalu memunculkan dilema moral. Di satu sisi, kita tidak bisa serta merta memaksa semua negara menjadi negara yang 0 emission. Akan menjadi tidak adil untuk negara-negara maju meminta negara berkembang untuk beralih ke reactor nuklir atau untuk melarang deforestasi. Dalam sejarah, negara-negara maju yang saat ini “berani” menerapkan kebijakan ramah lingkungan, telah menjadi emitor CO2 terbesar. Di sisi lain, memaksa negara-negara berkembang untuk membatasi emisi CO2 atau untuk menerapkan kebijakan-kebijakan radikal mengenai lingkungan sama saja membonsai kemajuan negara berkembang.
Namun, di lain sisi, kita juga tidak bisa melakukan pembiaran pada kematian lingkungan yang ada. Sudah terbukti dalam sejarah, peradaban yang menghancurkan alam, hampir pasti akan dihancurkan alam. Pilihannya hanya 2, kita yang memperbaiki alam agar kita tetap hidup atau alam yang akan memperbaiki dirinya sendiri dengan membinasakan kita.

0 Komentar