Generasi Petani (tidak) Muda

Sejak kecil kita sangat familiar dengan yang namanya petani. Entah itu dari buku bergambar saat TK hingga cerita tentang petani yang menghidupi keluarganya di buku teks Bahasa Indonesia saat SD. Saya secara pribadi ketika mendengar kata petani pada saat kecil akan membayangkan pak tani tua mengenakan kaos memangkul pacul dan mengenakan caping. Entah mengapa saya mendapat impresi pak tani bekerja disawah dari pagi hingga siang, lalu istirahat digubuk kecil dan pada sore harinya akan pulang kerumah kecilnya. Nampaknya impresi tersebut tidak hanya didapatkan oleh saya seorang. Hingga saat ini pun masih banyak kalangan yang menganggap bahwa petani merupakan pekerjaan kasar dan dilakukan oleh mereka dalam kalangan ekonomi menengah kebawah. Dalam esai ini saya akan membahas fenomena yang disebut aging farmer atau penuaan petani, yang terjadi di Indonesia.

Pada zaman modern seperti saat ini, Indonesia dihadapkan dengan satu masalah menarik di bidang pertanian, yaitu sedikitnya generasi muda yang berminat bekerja dibidang pertanian. Menurut Data Survei Pertanian Antar Sensus, pada tahun 2018, jumah petani utama yang berusia kurang dari 34 tahun berjumlah 3.221.093 jiwa, sedangkan jumlah petani utama yang berusia lebih dari 54 tahun berjumlah 9.957.982 jiwa. Jumlah petani tua tiga kali lipat dari jumlah petani muda. Dari data tersebut sudah terlihat bahwa di Indonesia sedang terjadi sebuah fenomena yang disebut aging farmer, dimana jumlah petani muda semakin berkurang seangkan jumlah petani tua bertambah banyak. 

Baca Juga : Hidupku Bukan Milikmu

Penurunan minat ini disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut Sri Hery Susilowati, beberapa alasan tersebut meliputi: penyempitan lahan pertanian dan profesi petani sering dianggap memiliki prestise lebih rendah daripada pekerjaan lain. Selain faktor tersebut, penyebab penurunan minat ini adalah modernisasi yang membawa pola pikir bahwa anak muda harus bekerja di sektor yang “modern” juga seperti start up dan IT. Pola pikir bahwa profesi petani adalah profesi kalangan menengah kebawah juga menjadi penyebab penurunan minat ini. 

Penurunan minat anak muda menjadi petani tentunya akan membawa dampak bagi berbagai sektor. Jika di masa depan hanya ada sedikit anak muda yang mau bergerak dibidang agrikultur, tentunya akan mengakibatkan turunnya volume produksi pangan. Ini akan mengakibatkan kerawanan pangan di Indonesia. Hal ini sesuai dengan kajian konsep ketahanan pangan yang di jelaskan dalam publikasi oleh Maleha dan Adi Sutanto karena salah satu subsistem ketahanan pangan, susbsistem produksi, tidak berjalan dengan baik.

Baca Juga : Sebuah Langkah Progresif

Petani muda memegang peran esensial dalam bidang agrikultur. Mereka akan menjadi generasi penerus di masa depan dunia agrikultur. Petani muda akan menjadi ujung tombak inovasi. Selain itu dengan adanya satu generasi baru petani, maka akan membuka banyak lapangan kerja bagi masyarakat.

Peran esensial petani muda, salah satunya adalah untuk mencapai ketahanan pangan. Dalam publikasinya, Maleha dan Adi Sutanto menyebutkan bahwa untuk mencapai ketahanan pangan diperlukan percepatan pertumbuhan di sektor pertanian dan pangan. Petani muda selaku pemegang tongkat estafet harus bisa melanjutkan dan memperbaiki hal tersebut melalui inovasi dari berbagai bidang. Inovasi disini bukan hanya inovasi dibidang pertanian yang bersifat on farm akan tetapi juga pada bidang lain seperti agribisnis, perbaikan distribusi pangan, dan inovasi diversifikasi makanan pokok. Dalam dunia yang ideal, petani muda harus bisa berinovasi dan mengembangkan tiga subsistem ketahanan pangan meliputi produksi, distribusi, dan konsumsi.

Baca Juga : Problematika Kritik dan Penghinaan

Perkembangan dibidang agrikultur juga akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja Indonesia. Menurut rencana strategis kementerian pertanian tahun 2020-2024, pada tahun 2019, persentase tenaga kerja yang diserap oleh sektor agrikultur adalah sebesar 25,19% atau sebnyak 31,87 juta dari 133,56 juta Angkatan kerja. Bisa dibayangkan jika terdapat 1 generasi baru petani muda yang mampu berinovasi dibidang ini, akan banyak lapangan kerja baru yang akan terbuka, entah itu merupakan lapangan kerja yang berhubungan langsung dengan bidang agrikultur mau pun tidak. Dengan terbukanya lapangan pekerjaan, maka dapat mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.

Indonsia saat ini sedang mengalami fenomena aging farmer. Jumah petani berusia tua semakin bertambah sedangkan generasi muda mulai kehilangan minat untuk menjadi seorang petani. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor. fenomena ini tentunya memberi dampak negatif pada berbagai sektor salah satunya ketahanan pangan hingga ekonomi. Sehingga disini generasi muda memiliki peran esensial dalam meneruskan tongkat estafet pembangunan sektor agrikultur di Indonesia. Dengan pembangunan sektor agrikultur, sektor-sektor lain akan terdampak pula


Geschenk

3 November 2021


REFERENCES

Maleha, & Sutanto, A. (2006). Kajian Konsep Ketahanan Pangan. Jurnal Protein Vol.13.No.12.Th.2006, 199. 

Maleha, & Sutanto, A. (2006). Kajian Konsep Ketahanan Pangan. Jurnal Protein Vol.13.No.2.Th.2006, 196.

Pertanian, K. (2020). Rencana strategis Kementerian Pertanian 2020-2024. Jakarta: Kementerian Pertanian.

Susilowati, S. H. (2016). Fenomena Penuaan Petani dan Berkurangnya Tenaga Kerja Muda. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 1, 47. 

SUTAS, T. (2018). Hasil Survey Pertanian Antara Sensus (SUTAS). Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Sayang banget tulisan sebagus ini yang nulis malah minta namanya ga dicantumkan wkwk

    BalasHapus
  2. min, bahas vandalisme dong, kemarin kayaknya adminnya kena kasus vandalisme ehehe

    BalasHapus