Keputusan ini sebenarnya berawal saat aku dan seorang temanku sedang bertikai tentang politik luar negeri dengan naifnya. Masih berdasar pada "katanya" tanpa membaca sumber apapun dalam perbincangan kita berdua, bahkan buku sepopuler "Dasar-Dasar Ilmu Politik" dari Prof. Miriam Darjo pun belum kami sentuh covernya. Mungkin sudah sekitar satu tahun kami membahas dan berbincang tanpa referensi jelas dan masih menggunakan opini orang lain untuk berdebat.
Sampai saat dimana kami berdua dengan percaya dirinya membahas tentang konflik-konflik revolusi besar di dunia. Dan entah kenapa kusadari ada seorang laki-laki yang mungkin sudah berumur 40-an tahun memperhatikan kita berbincang. Aku kira dia adalah seorang bapak-bapak weird yang hanya penasaran pada pembicaraan kami. Bahkan temanku menyebutnya seorang fanatis yang merasa tersinggung dengan kami. Dan semua tebakan itu salah, bahkan tidak satupun yang mendekatinya. Beberapa menit kemudian dia mulai mendekati kami, memulai dengan basa basi "Mau SMA mana dik?" dan kujawab dengan santai bahwa aku ingin masuk salah satu SMA di kotaku. Dia melanjutkan kata-katanya dengan sangat terstruktur dan rapi. Dia datang dengan tujuan "menyehatkan" debat kita. Dia memulai dengan kata kata "Jangan percaya mentah-mentah apa yang dikatakan media" dan mengakhirinya dengan kata "Jangan bosan baca buku"
Mungkin bagi kalian yang sedang membaca post ini itu adalah kejadian biasa yang sering terjadi. Namun dari dalam diriku, aku menjadi sadar aku masih jauh dari orang-orang dan mulai meninggalkan pemikiran bahwa aku sudah menjadi seseorang yang tahu tentang politik. Memang jarang sekali orang seumuranku yang dekat denganku dan bisa berbicara tentang social issues dengan waktu yang lama. Dan setelah bertemu dengan laki-laki yang masih belum ku ketahui namanya aku memutuskan untuk mempelajari basic-basic politik terlebih dahulu.
Dan setelah 1 atau 2 bulan mempelajari hal-hal basic, aku mulai terpikir kenapa aku tak mencoba share pemikiranku dan opiniku sebagai seorang murid bukan seorang expert pastinya tentang berbagai permasalahan. Tujuanku sederhana, selain menjaga pikiran ku tetap kritis, aku juga ingin melatih tulisanku agar kualitasnya semakin baik dan fun untuk dibaca. Anasir Siya adalah titik awalku untuk memulai tujuanku itu, mungkin di tengah jalan aku akan menemui persimpangan jalan dan pastinya suatu saat aku harus meninggalkan Anasir Siya untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.
Anasir Siya? bahasa yang sangat jarang terdengar di indra pendengaran kita, dan mungkin kalian para reader tak pernah mendengar kata-kata ini. Jadi sebenarnya Anasir Siya terbemtuk dari 2 kata yaitu Anasir yang berarti bisa berupa paham, sifat ataupun orang yang termasuk pada sebuah perkumpulan. Kata itu ku ambil dari buku "Manifesto Komunis" yang sampai sekarang belum usai juga ku baca karena bahasa yang sulit dipahami untuk siswa SMP seperti aku. Lalu, Siya sendiri berarti perkumpulan yang aku sebutkan tadi. Siya sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang berarti siswa, yang jelas ku ambil dari aku sendiri yang seorang siswa.
Untuk selanjutnya, aku mungkin akan membahas suatu bahasan yang menarik buatku, entah yang actual maupun yang timeless. Untuk bahasannya sendiri, aku lebih menargetkan ke isu pendidikan, isu sosial, dan juga isu lingkungan. Dan untuk yang lainnya mungkin aku akan membahas tentang pop culture seperti music, sport, dan juga film atau series yang ku tonton untuk dibahas. Untuk kedepannya aku masih belum bisa menjanjikan kapan akan upload artikel, mungkin seminggu dua kali jika tugas sekolah ku tidak menggila, mungkin juga bisa seminggu sekali, atau bisa lebih jarang jika ada kendala.

7 Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusChing cheng hanji
BalasHapusKomen sing jelas mas
HapusNggih mas
HapusWe ra pengen ngewangi aku nulis o pak? Bal"an yo rapopo
Hapuscant get me at all, kitchen in the dungeon
HapusKapan kapan wae bozzz
Hapus